Aku bisa membelainya dalam impi
Aku bisa merasakan lembut sentuhannya dalam angan
Oh Tuhan, hati ini telah bosan memujanya dalam asa
Jika boleh ku berdoa, izinkanlah ku mencinta dalam luka
Hingga bahagia hidup dengannya dalam cinta
Aku bisa membelainya dalam impi
Aku bisa merasakan lembut sentuhannya dalam angan
Oh Tuhan, hati ini telah bosan memujanya dalam asa
Jika boleh ku berdoa, izinkanlah ku mencinta dalam luka
Hingga bahagia hidup dengannya dalam cinta

Hidup di dunia terkadang sering menimbulkan kesombongan yang amat sangat bagi beberapa orang, terlebih lagi ketika seseorang tersebut memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain yang juga menyandang status “manusia”. Alangkah agung dan hinanya manusia diciptakan oleh Allah SWT, agung karena manusia memiliki akal fikiran yang bertujuan untuk mencari tahu kemana dirinya harus diabdikan, dan hina karena manusia itu juga diberi hawa nafsu yang akhirnya dapat menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam liang nista, dalam hal ini manusia perlu untuk bersikap bijak dalam mengendalikan hawa nafsunya, apakah akan dikirim ke tujuan yang baik atau buruk.
Kita sering merasa bagaikan seseorang yang “besar” di lingkup pergaulan yang kecil dan terbatas, namun pernahkah anda terfikir betapapun besar kuasa anda terhadap suatu hal, masih ada hal yang lebih besar yang tidak anda ketahui di luar sana? Gambar diatas menunjukkan ilustrasinya. Anda dapat melihat bahwa lingkaran tengah pada kedua grup lingkaran adalah berbeda bukan? Jika dilihat sekilas, lingkaran tengah pada grup lingkaran sebelah kiri terlihat lebih besar dari pada lingkaran tengah pada grup lingkaran sebelah kanan, benar begitu bukan? Tampak berbeda bukan? Namun cobalah perhatikan dengan seksama, bila perlu ambil penggaris untuk mengukur diameter kedua lingkaran yang berada di tengah, tampak jelas bahwa diameter kedua lingkaran adalah SAMA.
Ini membuktikan bahwa semua manusia adalah sama, kita hanya bisa menyombongkan diri di tengah mereka yang kecil, namun pernahkah anda bernyali untuk menyombongkan diri di tengah mereka yang lebih berwawasan luas atau yang lebih pintar dari pada anda? Jangan pernah lakukan itu, jika itu anda lakukan maka anda tak lebih dari seekor semut yang berada di tengah kerumunan gajah, dan tak membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak untuk menekan serta menghancurkan anda. Harap diingat, sebesar dan sehebat apapun diri anda ketika berada di dunia, anda hanyalah seorang makhluk yang diciptakan Allah SWT yang tak bedanya dengan manusia lainnya. Kuasa terhebat yang anda atau seseorang miliki selama hidup di dunia pun tak dapat menyentuh titik terendah kekuasaan Sang Maha Pencipta yang Maha Kuasa. Harap direnungkan kembali……
· Saya belajar, bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain mencintai saya, saya hanya dapat melakukan seseuatu untuk orang yang saya cintai.
· Saya belajar, bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan dan hanya beberapa detik saja untuk menghancurkannya.
· Saya belajar, bahwa sahabat terbaik bersama saya dapat melakukan banyak hal dan kami selalu memiliki waktu terbaik.
· Saya belajar, bahwa orang yang saya kira adalah orang yang jahat, justru adalah orang yang membangkitkan semangat hidup saya kembali serta orang yang begitu perhatian pada saya.
· Saya belajar, bahwa persahabatan sejati senantiasa tumbuh walau dipisahkan oleh jarak yang jauh, beberapa diantaranya melahirkan cinta sejati.
· Saya belajar, bahwa jika seseorang tidak menunjukkan perhatian seperti yang saya inginkan, bukan berarti bahwa dia tidak mencintai saya.
· Saya belajar, bahwa sebaik-baiknya pasangan itu, mereka pasti pernah melukai perasaan saya, dan untuk itu saya harus memaafkannya.
· Saya belajar, bahwa saya harus belajar mengampuni diri sendiri dan orang lain, kalau tidak mau dikuasai perasaan bersalah terus-menerus.
· Saya belajar, bahwa lingkungan dapat mempengaruhi pribadi saya, tapi saya harus bertanggung jawab untuk apa yang telah saya lakukan.
· Saya belajar, bahwa dua manusia dapat melihat sebuah benda, tapi kadang dari sudut pandang yang berbeda.
· Saya belajar, bahwa tidaklah penting apa yang saya miliki, tapi yang penting adalah siapa saya ini sebenarnya.
· Saya belajar, bahwa tidak ada yang instant atau serba cepat di dunia ini, semua butuh proses dan pertumbuhan, kecuali saya ingin sakit hati.
· Saya belajar, bahwa saya hars memilih apakah menguasai sikap dan emosi, atau sikap dan emosi itu yang menguasai diri saya.
· Saya belajar, bahwa saya punya hak untuk marah, tetapi itu bukan berarti saya harus benci dan berlaku bengis.
· Saya belajar, bahwa kata-kata manis tanpa tindakan adalah saat perpisahan dengan orang yang saya cintai.
· Saya belajar, bahwa orang-orang yang saya kasihi justru sering diambil segera dari kehidupan saya.
Terjemahan dari majalah people
Lantas apa artinya? Penulis hanya menekankan bahwa ilmu pengetahuan tidak akan bisa berkembang dengan hanya meratapi dan melihat kemajuan atau kesuksesan seseorang, lakukan apa yang bisa kamu lakukan sekarang sebelum kamu menyesal dengan apa yang telah kamu lakukan dan tinggalkan di masa lalu. Lihatlah mereka yang berprestasi hingga bisa menembus dunia internasional, diawali oleh hal-hal yang kecil yang kemudian mampu menghasilkan prestasi emas. Namun jika kamu tidak mampu melakukan itu, ingatlah akan selalu ada hikmah dibalik semua kejadian yang terjadi, hanya saja hikmah yang ada dibalik sebuah kejadian tidak akan kita ketahui apabila kita tidak berusaha untuk mencari tahu dan tidak kita renungkan baik-baik. Seorang bijak atau lebih tepatnya salah seorang motivator terbaik

Bukan kutega membiarkanmu
Menantikan diriku
Sisi hatiku masih terbagi
Cinta dan duka lara
Tiada lagi yang tersisa dariku
Hanya dengan cinta dan tetes air mata
Kupersembahkan cintaku
Membagi cinta
Karena diriku masih terikat
Meski takdirku bukan milikmu
Hanya kau yang mengisi hidupku
Simfoni hati enggan berhenti
Mendera dalam hati
Jika kubisa putar kembali
Engkau milikku pasti
Seandainya aku utuh seperti dulu
Pasti untukmu setiaku
Hanya dengan cinta dan tetes air mata
Kupersembahkan cintaku
Sanggupkah aku mendampingimu
Tak banyak lagi dapat kuberi
Meski diriku harus berlalu
Tapi cintaku hanya untukmu
Sepenggal cinta dan air mata
Kekasih, kupersembahkan cintaku
Jatuh Cinta Nggak Dilarang
Sobat muda muslim, jatuh cinta itu nggak dilarang kok. Lagian, siapa yang bisa melarang orang lain untuk tidak jatuh cinta. Nggak bakalan bisa. Namun jangan pula kemudian nganggep bahwa mentang-mentang jatuh cinta nggak dilarang, lalu mengekspresikannya dengan pacaran jadi sah-sah aja. Ah, kalo itu sih udah tulalit atuh. Beda euy, antara cinta dengan aktivitas mengekspresikan cinta, bro. Oke?
Oya, boleh tuh jatuh cinta meski nggak perlu orang yang kita cintai itu mencintai kita juga. Artinya cinta tak selalu harus saling bersambut. Jadi, kalo kita jatuh cinta kepada seseorang, tak perlu orang tersebut juga mencintai kita. Namun, seringkali kita nggak siap untuk menerima “penolakan” dari orang yang kita cintai. Sakit. Bahkan bisa sakit banget kalo orang yang nolak dekat dengan kita. Kita setengah mati mencintainya, eh, dia malah setengah hidup menolaknya. Itu
Jadi, kalo udah jatuh cinta, nikmati saja tanpa harus diekspresikan dengan pacaran. Caranya gimana? Ehm, ketika kita jatuh cinta, jangan keburu geer dan tergesa untuk ungkapkan cinta. Itu bisa berbahaya bagi yang belum bisa menerima beban kecewa. Emang sih perasaan cinta itu nggak bisa ditahan-tahan. Nggak bisa dihalangi dengan kekuatan apa saja. Bahkan adakalanya nggak bisa digeser-geser en dipindah-pindah ke lain hati (emangnya pot bunga, digeser-geser?). Maka jangan heran kalo kita ingin rasanya buru-buru menuntaskan rindu kita kepada seseorang yang membuat kita nggak nyenyak tidur siang-malam. Kita ingin agar perasaan kita benar-benar saling berbalas. Kita ingin jadikan ia sebagai dermaga tempat cinta kita berlabuh. Sampai tanpa sadar bahwa kita dikendalikan oleh cinta, bukan kita yang mengendalikanny
Tapi saran saya jangan keburu “geer” deh kalo tiba-tiba kamu punya rasa cinta kepada lawan jenis. Kenapa? Karena kalo kamu belum kuat menahan bebannya, bisa blunder. Kamu bisa sakit hati. Bayangin aja ketika kamu terlalu “geer” alias gede rasa, kamu nekadz menembak teman gadismu. Kita bisa dan siap ngincer lalu nembak lawan jenis kita. Tapi, seringkali di usia sepantaran kamu yang masih ABG sering nggak siap menerima kenyataan, gitu lho.
Kok bisa? Hmm.. mungkin karena kurang pengalaman kali ye (atau bisa juga nggak pede), jadinya pas ditolak, teroris bertindak (idih, serem banget). Iya, saya pernah baca di koran bahwa ada seorang remaja laki-laki yang cintanya ditolak gadis pujaannya, dan langsung bertindak dengan mengerahkan teman-temannya untuk meneror si gadis dan pacar pilihannya hingga ada korban jiwa. (hmm.. itu sih namanya cinta berbuah tahlilan)
Jadi intinya, boleh saja jatuh cinta. Nggak ada yang larang kok kalo kamu jatuh hati. Wajar aja lagi. Tapi, mbok ya jangan keburu geer gitu lho, hingga menafsirkan kalo cinta harus diwujudkan dengan bersatunya dua hati, lalu tergesa ungkapkan cinta. Padahal seringkali di antara kita yang masih bau kencur ini nggak siap dengan kenyataan. Dalam bayangannya, cinta itu harus bersatu, cinta itu harus saling memiliki, itu sebabnya mau tidak mau cinta itu harus berbalas. Padahal banyak kasus berakhir dengan kecewa. Itu karena kita ngotot cinta sama si dia, sementara si dia juga ngotot nolak kita. Walah, itu namanya cinta sepihak. Jadi, jangan cepet geer ya!
Sekarang saya mau tanya, memang kalo suka sama seorang seleb, dan kamu sayang sama dia, kudu juga berbalas? Nggak juga kok menurut saya. Kenapa? Begini, kamu yang cewek cinta nggak sama Nicholas Saputra? Senang banget
Pendam Saja Dulu Rasa Itu
Waktu sekolah, saya juga punya rasa cinta kepada seorang gadis teman satu sekolah, tapi karena saya tidak berani mengungkapkannya, saya cukup jadikan ia sebagai “objek” kreativitas saya dalam puisi dan cerpen. Selama tiga tahun saya Cuma memendamnya dalam hati rasa cinta kepada gadis satu sekolah itu. Saya hanya bisa cerita kepada teman saya dan si dia sendiri nggak pernah tahu kalo sedang “dicintai“ sama saya. Ajaib memang. Di sini saya merasa mencintai tanpa bersalah dan enjoy aja lagi. Saya bisa menikmatinya dan menerjemahkannya dalam puisi. Ya, saya merasa bahagia saja dalam mencintai meski dia sama sekali nggak tahu.
Tapi.. setelah saya mulai nekat mengungkapkan cinta, barulah muncul masalah. Salah satunya ya rasa bersalah diantara kami. Ternyata eh ternyata ia sama sekali tak mencintai saya, dan menganggap sekadar teman biasa. Rasanya langit bagai runtuh menimpa saya (karena sudah terlanjur mencintai sepenuh hati. Kandas deh!). Ya, saya merasa bersalah karena saya begitu besar mencintai dia (padahal dulu asyik-asyik aja tuh saat belum diungkapkan perasaan cinta itu). Dia mungkin merasa bersalah karena telah begitu halus menolak cinta saya. (KLBK alias Kenangan Lama Bangkit Kembali neh. Gubrak!)
Jadi intinya, nikmati saja dulu cinta itu dengan diam-diam. Tunggu saatnya tiba. Saat dimana kita sanggup menahan beban dan siap ditelan kenyataan. Biarkan ia tumbuh subur dulu. Kalo pun kemudian harus kecewa, ya itu resiko. Tapi minimal, kita pernah mencintai seseorang yang bisa memekarkan kuncup di hati kita dan membuat kita jadi kreatif tanpa rasa bersalah sedikit pun. Lagian bukankah Bang Ebiet pernah bersenandung, “Sebab cinta bukan mesti bersatu…” Ehm, pantesan seorang kenalan saya pernah bilang ke saya waktu curhat: “Cinta pertama saya bukan dengan istri saya, tapi saya masih inget sampe sekarang gimana perasaan saya waktu mencintai teman saya itu. Karena itu cinta pertama, tapi ternyata nggak jadi…” Nah lho!
Itu sebabnya, banyak orang sekadar “cinta sepihak” dan memendamnya dalam hati. Karena tak berniat untuk mengungkapkannya. Tapi ternyata aman-aman saja kok. Jelas, ia tidak merasa bersalah. Baik kepada dirinya maupun kepada orang lain.
Mungkin ini tipe orang yang seperti digambarkan dalam lagunya Bang Ebiet G. Ade, “Apakah Ada Bedanya”: “Cinta yang kuberi sepenuh hatiku, entah yang kuterima aku tak peduli… aku tak peduli…aku tak peduli” (Duile…ini bukan putus asa apalagi patah arang, tapi sekadar mengungkapkan betapa masih ada orang yang sebenarnya ingin total mencintai dan tak peduli dengan balasannya dari orang yang dicintainya).
Pacaran Itu Merugikan
Kamu pasti apal deh lagunya PeterPan yang sebagian isi liriknya begini nih; “Apa yang kau lakukan di belakangku/ Mengapa tak kau tunjukkan di hadapanku/ Apa yang kau lakukan di belakangku/ di belakangku/ di belakangku…” Yup, lagu ini judulnya adalah “Di Belakangku”. Apal
Ehm, rasa-rasanya Ariel nyanyinya berdasarkan pengalaman tuh, mungkin sama seperti pengalaman banyak teman kita yang diterjemahkan dalam bentuk lagu. Pengalaman apa? Hmm…moga-moga saja bener nih. Ypu, kayaknya pengalaman diselingkuhi sama pacarnya tuh. Wah, wah, inilah salah satu sisi gelap pacaran. Emang sih, yang udah nikah juga bisa selingkuh, tapi lebih rugi dan konyol lagi masih pacaran malah udah dikadalin sama pasangannya. Belum jadi suami-istri aja udah nggak bisa dipercaya, apalagi kalo udah menyatu dalam pernikahan? Pikir-pikir lagi ye.
Oya, loss pride alias hilang harga diri juga adalah dampak dari pacaran. Kok bisa? Yah, namanya juga pacaran, masih bisa sambung-putus sesukanya. Jadi, ketika bubaran, banyak yang “ember” cerita ke yang lain. Misalnya, “Kamu pacaran sama dia? Jangan mau, dulu pernah sama aku, dia kalo tidur ngiler!” Wacks?
Nah, soal pacaran cukup sampe disini dulu ya, karena keterbatasan halaman. Pekan depan insya Allah disambung lagi dengan penekanan lebih dalem soal hubungan pranikah tersebut, oke? Pekan ini kita lebih fokus bahas bahwa cinta bisa tumbuh meski tanpa pacaran. Yakin itu. Oke? Wallahu’alam.